Senin, 09 Januari 2012

Stonehenge


Stonehenge merupakan sebuah bangunan batu peninggalan manusia purba pada zaman Neolitikum yang terletak di Salisbury Plain yang berdekatan sekitar 13 kilometer dengan Amesbury, Propinsi Wilshire, Inggris. Stonehenge sendiri terdiri dari tiga puluh batu tegak (Sarsens) dengan ukuran yang sangat besar. Pada mulanya masing-masing batu seragam tingginya, yaitu 10 meter dengan masing-masing batu mempunyai berat 26 ton. Semua batu tegak tersebut disusun dengan bentuk tegak melingkar. Didalam 30 lingkaran batu besar tadi juga terdapat sekitar 30 batu dengan ukuran yang lebih kecil yang dinamakan Lintels, yang disusun juga dengan bentuk melingkar. Tapi sayangnya, pada saat ini kebanyakan batu-batu tegak tadi telah terkikis dan jatuh. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyaknya wisatawan yang menaiki Stonehenge karena keingintahuan mereka yang besar. Semenjak itu, telah dilakukan tiga kali tahap renovasi untuk menegakkan kembali batu-batu yang miring / terbalik dan mengembalikan batu-batu tersebut ke tempat semula dengan teliti. Secara tidak langsung, berarti bentuk Stonehenge tidak lagi asli seperti asalnya yang disebutkan dalam promosi pariwisata. Tempat ini dimasukkan dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1986.

Kompleks Stonehenge dibangun dalam beberapa fase pembangunan selama 2.000 tahun dan sepanjang kurun waktu itu aktivitas terus berjalan. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya sesosok mayat seorang Saxon yang dipancung dan dikebumikan di tugu peringatan tersebut, dan kemungkinan mayat tersebut berasal dari abad ke-7 M.

Berikut adalah argumen dari para arkeolog dunia mengenai Stonehenge:

  • Gerald Hawkins, Seorang Profesor Astronomi mengeluarkan pernyataan bahwa fungsi sesungguhnya dari Stonehenge dimasa lalu adalah sebagai Observatorium Astronomi yang canggih untuk meramalkan datangnya Gerhana Matahari ataupun Gerhana Bulan (Stonehenge Decoded). Menurutnya,"Jika anda bisa memahami posisi pada setiap susunan batu,maka anda pasti dapat menyimpulakan mengenai kegunaan Stonehenge pada masa lalu".Para Astronom lainnya juga menemukan siklus 56 tahun Gerhana Matahari dan Bulan dengan cara mendecode setiap batu pada Stonehenge. Pada setiap batu tegak,nantinya akan merefleksikan posisi tertentu dari cahaya matahari,sehingga sangat akurat untuk menunjukkan siklus perhitungan astronomi.
  • Gerald Wales, Seorang ahli Sejarah dan Topografi Irlandia menyebutkan bahwa Manusia Raksasa telah membawa batu-batu maha besar tersebut dari Afrika ke Inggris. Dari struktur geologi pada batu-batu penyusun Stonehenge sendiri memang menunjukkan bahwa batu-batu maha besar itu bukanlah berasal dari wilayah Eropa, karena strukturnya sangat berbeda, namun mirip dengan bebatuan dari wilayah Afrika. Tapi benarkah Manusia raksasa itu memang ada? Mengingat pembangunan The Great Pyramid Giza di Mesir juga memiliki sangkut paut dengan para Manusia Raksasa.
  • Tom Goskar, Seorang Arkeolog dengan metode scanning lasernya menemukan bentuk-bentuk ukiran pada bebatuan Stonehenge, namun jika dengan mata telanjang tidak akan terlihat. setidaknya dapat memberikan secercah harapan untuk menguak kegunaan Stonehenge pada masa lalu.
  • Richard Jhon Coplan Atkinson, Seorang Arkeolog inggris menyimpulkan bahwa Stonehenge kira-kira dibangun sekitar 5000 tahun silam, pembangunannya sendiri dibagi menjadi beberapa fase. Tentunya dengan banyaknya tahapan fase dalam pembangunan Stonehenge, menunjukkan bahwa bangunan tersebut memerlukan waktu yang sangat lama dalam pengerjaannya, mulai dari pengangkutan batunya sendiri sampai tahap pengukiran pada setiap batunya.

Stonehenge juga dikaitkan dengan legenda Raja Arthur. Geoffrey dari Monmouth berkata bahwa tukang sihir Merlin telah mengurus pemindahan Stonehenge dari Irlandia, di mana ia telah dibangun di Gunung Killaraus oleh raksasa yang membawa batu-batu tersebut dari Afrika. Selepas ia didirikan kembali berdekatan Amesbury, Geoffrey menceritakan dengan lebih lanjut bagaimana Uther Pendragon, kemudian Konstantinus III, dikebumikan di dalam bulatan batu tersebut. Dalam karangannya Historia Regum Britanniae, Geoffrey mencampurkan legenda Inggris dan khayalannya pada banyak tempat. Menarik bahwa dia mengaitkan Ambrosius Aurelianus dengan monumen prasejarah ini, melihatkan bagaimana terdapat bukti nama yang sama antara Ambrosius dengan Amesbury yang berdekatan.

Sumber:
clubbing.kapanlagi.com
wikipedia.com

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates